Pencarian

NGOPI di Kediri Bahas Penguatan Mutu Pendidikan Pesantren dan Kolaborasi Pendidikan Islam

Kediri (Inmas) — Forum NGOPI (Ngobrol Mutu Pendidikan Islam) digelar di Gedung Serbaguna Al Ikhlas, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis untuk membahas penguatan mutu pendidikan pesantren melalui kolaborasi antara pemerintah, legislatif, perguruan tinggi keagamaan Islam, dan para pengasuh pesantren. Forum tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari kiai, pimpinan pondok pesantren, tokoh masyarakat, hingga akademisi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Achmad Fa’iz, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan para pengasuh pesantren dan tokoh masyarakat dalam forum tersebut. Menurutnya, penguatan kelembagaan pesantren di tingkat pusat menjadi momentum penting bagi pengembangan pendidikan pesantren di daerah. Kehadiran Direktorat Jenderal Pondok Pesantren di lingkungan Kementerian Agama diharapkan semakin memperkuat perhatian dan dukungan terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran strategis dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Achmad Fa’iz menegaskan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter generasi muda dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, penguatan mutu pendidikan pesantren perlu didukung melalui sinergi berbagai pihak agar pesantren mampu mempertahankan tradisi keilmuannya sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang pengembangan yang lebih luas bagi lembaga pesantren dan para santri.

Forum NGOPI turut menghadirkan Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. An’im Falachuddin Mahrus, yang akrab disapa Gus An’im, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam pemaparannya, Gus An’im menyoroti pentingnya kolaborasi antara Kementerian Agama, perguruan tinggi keagamaan Islam, dan pesantren dalam merespons perkembangan kebijakan pendidikan nasional. Ia juga menekankan perlunya pembenahan sistem akreditasi dan penataan rumpun program studi dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta karakteristik pendidikan Islam.

Gus An’im mengingatkan pentingnya menghilangkan dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai keislaman. Perguruan tinggi keagamaan Islam diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman agama, akhlak yang baik, serta kemampuan bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Sinergi antara kampus dan pesantren menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Selain membahas peningkatan mutu pendidikan dan penguatan sinergi kelembagaan, forum NGOPI juga memunculkan harapan terhadap terbukanya peluang pengembangan program beasiswa bagi santri. Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperluas akses pendidikan dan memberikan kesempatan kepada santri untuk melanjutkan studi serta mengembangkan potensi diri. Berbagai gagasan yang mengemuka diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui program konkret dengan skema, mekanisme pelaksanaan, dan dukungan pendanaan yang jelas.

Melalui forum NGOPI, diharapkan komunikasi dan kerja sama antara pemerintah, legislatif, perguruan tinggi keagamaan Islam, ulama, dan lembaga pesantren semakin kuat. Dialog tersebut menjadi kesempatan untuk menyatukan gagasan dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam, memperluas kesempatan belajar bagi santri, serta memperkuat kontribusi pesantren dalam pembangunan masyarakat. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, pesantren diharapkan mampu menjaga jati diri dan tradisi keilmuannya sekaligus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, moderat, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Humas)