Kediri, 18 Agustus 2026 — Ratusan peserta dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari lintas komunitas, tokoh masyarakat, hingga pelajar, mengikuti Kirab Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Konstitusi Republik Indonesia di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus sarana memperkuat semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Rombongan kirab bergerak dari Balai Desa Pojok menuju Situs Persada Sukarno nDalem Pojok dengan membawa sejumlah simbol kebangsaan.
Ketua Harian Situs Persada Sukarno nDalem Pojok, Kushartono, mengatakan suasana khidmat terasa sejak rombongan mulai berjalan. Barisan terdepan diikuti para tokoh spiritual, kemudian simbol lambang negara Garuda Pancasila yang diapit plakat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Kemeriahan kirab semakin terasa dengan diaraknya galeri foto Presiden Republik Indonesia, mulai dari Presiden pertama, Ir. Soekarno, hingga Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, belasan pemuda dan pemudi turut membentangkan bendera Merah Putih berukuran raksasa di sepanjang rute kirab.
Setibanya di kawasan Situs Persada Sukarno nDalem Pojok, peserta mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan, antara lain pertunjukan seni tari bertema kebangsaan dari Sanggar Tari Sasono Panji Saputro, upacara bendera, doa bersama lintas agama, serta penyerahan santunan kepada puluhan anak yatim.
Kushartono menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengingatkan masyarakat mengenai arti penting 18 Agustus dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia. Ia menyebut, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2008, tanggal 18 Agustus ditetapkan sebagai Hari Konstitusi.
Menurutnya, momentum 18 Agustus memiliki keterkaitan erat dengan proses pembentukan negara setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pada 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 serta menetapkan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
“Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan pernyataan kemerdekaan bangsa. Sementara pada 18 Agustus 1945 berlangsung proses penting dalam pembentukan tata negara melalui pengesahan UUD 1945 serta penetapan Presiden dan Wakil Presiden,” ujar Kushartono.
Ia menambahkan, tradisi syukuran dan doa lintas agama di kawasan Situs Persada Sukarno nDalem Pojok telah dilaksanakan secara konsisten sejak 2018. Namun, kirab yang melibatkan berbagai elemen masyarakat secara lebih luas baru pertama kali digelar di Kediri.
Kegiatan tersebut, lanjutnya, juga menjadi bagian dari edukasi sejarah kepada masyarakat agar memahami rangkaian peristiwa penting yang berlangsung pada Agustus 1945. Menurut Kushartono, masih terdapat masyarakat yang belum mengetahui bahwa 17 dan 18 Agustus memiliki momentum sejarah yang berbeda namun saling berkaitan.
Inisiatif tersebut, kata dia, turut didasarkan pada hasil kajian dan diskusi dengan sejumlah tokoh dan akademisi, di antaranya sejarawan Prof. Anhar Gonggong serta ahli hukum tata negara Prof. Jimly Asshiddiqie.
Situs Perjuangan nDalem Pojok bersama Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, lanjut Kushartono, juga telah menyampaikan usulan kepada Presiden Republik Indonesia agar 18 Agustus tidak hanya diperingati sebagai Hari Konstitusi, tetapi juga mendapat penetapan resmi sebagai Hari Berdirinya NKRI.
Kirab Kebangsaan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah, menanamkan nilai-nilai Pancasila dan konstitusi, sekaligus mempererat persatuan masyarakat di tengah keberagaman. Kegiatan yang melibatkan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi kebangsaan bagi generasi muda agar memahami sejarah berdirinya Indonesia dan menjaga nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.


